Minggu, 24 Mei 2015

Fraud atau Kecurangan Dalam Akuntansi

TUGAS
FRAUD DALAM AKUNTANSI

IPSLOG.JPG

NAMA: HELVISTAR THOMAS
PROGDI: AKUNTANSI
NIM: 31140209






FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS HALMAHERA
TOBELO, 2015


Fraud (kecurangan) Dalam Akuntansi

Dalam akuntansi, dikenal ada dua jenis kesalahan yaitu kekeliruan (error) dan kecurangan (fraud). Perbedaan antara kedua jenis kesalahan ini hanya dibedakan oleh jurang yang sangat tipis,  yaitu ada atau tidak nya unsur kesengajaan. Standar pun mengenali bahwa seringkali mendeteksi kecurangan lebih sulit dibandingkan dengan kekeliruan karena pihak manajemen atau karyawan akan berusaha menyembunyikan kecurangan itu.

A.     Pengertian Kecurangan
Fraud adalah tindakan curang, yang dilakukan sedemikian rupa, sehingga menguntungkan diri sendiri/klpk merugikan pihak lain (perorangan, perusahaan atau institusi).
Ada tiga hal yang mendorong terjadinya sebuah upaya fraud, yaitu dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan fraud (pressure), peluang yang memungkinkan fraud terjadi (opportunity), dan elemen penting dalam terjadinya fraud, dimana pelaku mencari pembenaran atas tindakannya (rationalization).
Jenis fraud berdasarkan pelaku dikelompokan menjadi:
1.       Employee fraud (kecurangan pegawai), adalah kecurangan yang dilakukan oleh pegawai dalam suatu organisasi kerja.
2.       Management fraud (kecurangan manajemen), adalah kecurangan yang dilakukan oleh pihak manajemen dengan menggunakan laporan atau transaksi keuangan sebagai sarana fraud, biasanya mencurangi pemegang kepentingan organisasinya.
Jenis fraud dikelompokan berdasarkan tindakannya.
1.       Penyelewengan terhadap aset (misappropritation of assets), adalah penyalahgunaan aset perusahaan secara sengaja untuk kepentingan priibadi, biasanya sering dilakukan oleh pegawai (employee). Contohnya, penggelapan khas perusahaan, penggunaan fasilitas untuk kepentingan pribadi.
2.       Kucurangan dalam laporan keuangan (fradulent financial reporting) adalh salah saji atau pengabaian jumlah dan pengungkapan yang disengaja dengan maksut  menipu para pengguna laporan, biasanya sering dilakukan oleh management. Contohnya, overstating assets, understating liabilties.




Fraud merupakan penipuan yang disengaja dilakukan yang menimbulkan kerugian tanpa disadari oleh pihak yang dirugikan tersebut dan memberikan keuntungan bagi pelaku kecurangan. Kesalahan dapat dideskripsikan sebagai “Unintentional Mistakes” (kesalahan yang tidak disengaja). Kesalahan dapat terjadi karena pada setiap tahapan dalam pengelolaan transaksi terjadinya transaksi, dokumentasi, pencatatan dari ayat-ayat jurnal, pencatatan debit kredit, pengikhtisaran proses dan hasil laporan keuangan. Kesalahan dapat dalam banyak bentuk matematis, kritikal, atau dalam aplikasi prinsip-prinsip akuntansi. Terdapat kesalahan jabatan atau kesalahan karena penglihatan/ kelalaian, atau kesalahan dalam interprestasi fakta. “commission”  merupakan kesalahan prinsip (error of principle), seperti perlakuan pengeluaran pendapatan sebagai pegeluaran modal. Sedangkan “ommision” berarti bahwa sutau item tidak dimasukan sehingga menyebabkan informasi tidak benar. Apabila suatu kesalahan adalah disengaja, maka kesalahan tersebut merupakan kesalahan penyajian keuangan yang disengaja atas informasi keuangan.
G. Jack Bologna, Robert J. Linquist dan Joseph T. Wells mendefinisikan kecurangan “fraud is criminal deception intended to financially benefit the deceiver (1993, hal 3,)” yaitu kecurangan adalah penipuan kriminal yang bermaksut untuk memberi manfaat keuangan kepada si penipu. Kriminal disini berarti setiap tindakan kesalahan serius yang dilakukan dengan maksut jahat. Dan dari tindakan jahat tersebut ia memperoleh manfaat dan merugikan korbannya secara financial. Biasanya kecurangan mencakup tiga langkah, yaitu
1)      Tindakan/theact
2)      Penyembunyian atau the concealment, dan
3)      Kenversi atau the convertion.
Misalnya,  pencurian atas harta persediaan adalah tindakan, kemudian pelaku akan menyembunyikan kecurangan tersebut misalnya dengan membuat bukti tranksaksi pengeluaran fiktif.
Fraud  adalah tindakan ilegal yang dilakukan satu orang atau kelompok orang secara sengaja atau terencana yang menyebabkann orang/kelompok mendapat keuntungan dan merugikan orang/kelompok lain.
Fraud atau kecurangan dalam akuntansi merupakan peyimpangan dari prosedur akuntansi yang benar maka informasi akuntansi yang dihasilkan akan sangat berguna bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Informasi akuntansi yang dihasilkan dari proses akuntansi dari suatu entiti sangatlah penting, dimana informasi ini menjadi pertimbangan terhadap program atau kebijakan entiti tersebut untuk mencapai tujuannya. Selain itu informasi akuntansi yang benar juga dapat berfungsi untuk mengetahui gambaran keuangan atau keadaan suatu entiti atau perusahaan.
Kecurangan umumnya terjadi karena adanya tekanan untuk melakukan penyelewengan atau dorongan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan adanya pembenaran (diterima secara umum) terhadap tindakan tersebut. Fraud merupakan suatu perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pihak didalam maupun diluar organisasi, dengan maksut untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok yang secara langsung merugikan orang lain. Secara umum fraud terdiri dari dua golongan, yaitu penggelapan aktiva (misapporopriation) dan kecurangan pelaporan keuangan (frauddulent financial reporting).
Kecurangan Dibagi Dalam Tiga Kelompok, Yaitu:
1.       Kecurangan laporan keuangan (financial statement fraud)
Kecurangan laporan keuangan dapat didefinisikan sebagai kecurangan yang dilakukan oleh saji material laporan keuangan yang merugikan investor dan kreditor. Kecurangan ini dapat bersifat financial atau kecurangan non financial.
2.       Penyalagunaan assets (assets misappropriation)
Penyalahgunaan aset dapat digolongkan ke dalam ‘kecurangan Kas’ dan aset lainnya, serta pengeluaran-pengeluaran  biaya secara curang (frauddulent disbursement)
3.       Korupsi (corruption)
Korupsi menurut ACFE, bukannya pengertian korupsi menurut UU pemberantasan TPK di Indonesia. Menurut ACFE, korupsi terbagi ke dalam pertentangan kepentingan (conflict of interest), suap (bribery), pemberian illegal (illegal gratuity), dan pemerasan(economic extortion).


B.     Karakteristik Kecurangan
 Dilihat dari pelaku fraud auditing maka secara garis besar kecurangan bisa dikelompokan menjadi dua jenis:
1.       Oleh pihak perusahaan, yaitu:
-          Manajemen untuk kepertingan perusahaan, yaitu salah saji yang timbul karena kecurangan pelaporan keuangan (mistatements arising from frauddulent financial reporting, untuk menghindari hal tersebut ada baiknya karyawan mengikuti auditing workshop dan fraud workshop.
-          Pegawai untuk keuntungan individu, yaitu salah saji yang berupa penyalahgunaan.
2.       Oleh pihak luar perusahaan, yaitu pelangggan, mitra usaha, dan pihak asing yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan.


C.     Penyebab terjadinya Kecurangan
Penyebab terjadinya kecurangan menurut J. S. R Venables dan KW Impley dalam buku “Internal Audit” (1988, hal 424) mengemukakan kecurangan terjadi karena:
1.       Penyebab Utama
-          Penyembunyian (concealment), kesempatan tidak terdeteksi. Pelaku perlu menilai kemungkinan dari deteksi dan hukuman sebagai akibatnya.
-          Kesempatan/peluang (opportunity), pelaku perlu berada pada tempat yang tepat, waktu yang tepat agar  mendapatkan keuntungan atas kelemahan khusus dalam system dan juga menghindari deteksi.
-          Motivasi (Motivation), pelaku membutuhkan motivasi untuk melakukan aktifitas demikian, suatu kebutuhan pribadi seperti katamakan/karakusan dan motivator yang lain.
-          Daya Tarik (Attraction), sasaran dari kecurangan yang dipertimbangkan perlu menarik bagi perlaku.
-          Keberhasilan (Success), pelaku perlu menilai peluang berhasil, yang dapat diukur baik menghindari penuntutan atau deteksi.
2.       Penyebab Sekunder
-          “A Perk”, kurang pengendalian, mengambil keuntungan aktifa organisasi dipertimbangkan sebagai suatu tunjangan karyawan.
-          Hubungan antar pemberi kerja/pekerja yang jelek, yaitu saling kepercayaan dan penghargaan telah gagal. Pelaku dapat mengemukakan alasan bahwa kecurangan hanya menjadi kewajibannya.
-          Pembalasan dendam (Revenge), ketidaksukaan yang hebat terhadap organisasi dapat mengakibatkan pelaku berusaha merugikan organisasi tersebut.
-          Tantangan (Challenge), karyawan yang bosan dengan lingkungan kerja mereka dapt mencari stimulasi dengan berusaha untuk “memukul sistem”, sehingga mendapatkan suatu arti pencapaian ( a sense of achievement), atau pembebasan frustasi (relief orf frustation). Tanda-tanda peringatan untuk kecurangan meskipun pada suatu kesempatan pemeriksa intern malakukan penugaan langsung dalam penyelidikan kecurangan yang dicurigai atau aktual, bagian yang lebih besar dari usahanya yang berorientasi kecurangan merupakan suatu bagian audit yang lebih luas. Usaha yang berorientasi pada kecurangan ini dapat dalam bentuk prosedur khusus, termasuk dalam program audit yang lebih luas. Usaha yang berorientasi kecurangan tersebut dapat termasuk seluruh dari kesiapsiagaan umum dari pemeriksa intern ketika ia melaksanakan seluruh bagian dari penugasan audit ini. Kesiapsiagaan ini termasuk berbagai area, kondisi dan pengembangan yang memberikan tanda-tanda peringatan. Area-area yang sensitif pemeriksaan intern khususnya harus waspada terhadap area yang sensitive untuk penelaahan yang dalam.

D.     Kejadian-kejadian Yang Menandai Terjadinya Kecurangan
(fraud)
Dibawah in imerupakan suatu daftar yang disusun oleh American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) pada tahun 1979 mengenai kondisi-kondisi atau kejadian-kejadian yang dapat menandai adanya kecurangan:
1.       Manajement senior yang sangat menguasai/ mendominasi dan terdapat satu atau lebih kondisi berikut atau yang sama:
-          Dewan direksi dan/ atau panitia audit yang tidak efektif.
-          Indikasi dari penolakan manajement atas pengendalian akuntansi internal yang penting.
-          Konpensasi atau opsi saham yang signifikan yang berkaitan dengan kinerja yang dilaporkan atau terhadap transaksi khusus, yaitu menejemen senior mempunyai pengendalian nyata atau penuh.
-          Indikasi kesulitan keuangan pribadi dari manajemen senior.
-          Perebutan perwalian yang melibatkan pengendalian perusahaan atau status dari manajemen senior.

2.       Kemerosotan atau kemunduran dari mutu pendapatan yang dibuktikan oleh:
-          Penurunan dalam volume atau mutu penjualan (mesalnya, resiko kredit yang meningkat atau penjualan sama dengan atau dibawah harga pokok).
-          Perusahaan yang signifikan dalam praktik usaha.
-          Kepentingan yang berlebihan oleh manajemen senior dalam laba per saham (EPS/Earnings per share) yang diperngaruhi oleh pilihan akuntansi.
3.       Kondisi usahan yang dapat menciptakan tekanan yang tidak biasa:
-          Modal kerja yang tidak memadai
-          Kelenturan/flesibilitas yang kecil dala pembatasan hutang, seperti rasio modal kerja dan keterbatasan dalam pinjaman tambahan.
-          Perluasan ekspansi yang cepat dari suatu produk atau lini usaha yang menyolok sekali dengan melebih rata-rata industri.
-          Investasi yang besar dari sember daya pemisahan dalam suatu industri yang mengalami perubahan cepat, seperti suatu industri yang bertekhnologi tinggi.
4.       Struktur korporat yang rumit, yaitu kompleksitas yang terjadi tidak tampak diperlukan oleh operasi atau ukuran perusahaan.
5.       Lokasi usaha yang menyebar secara luas disertai oleh manajemen yang didesentralisasi secara ketat dengan system pelaporan tanggungjawab yang tidak memadai.
6.       Kekurangan staf yang tampak memerlukan karyawan tertentu bekerja pada jam yang tidak biasa, tidak memerlukan cuti dan atau melakukan kerja lembur yang substansial.
7.       Tingkat perputaran yang tinggi dalam posisi keuangan penting, seperti bendaharawan atau kontroler.
8.       Sering terjadi perubahan auditor tau penasihat hukum
9.       Kelemahan material yang diketahui dalam pengendalian intern yang dapat secara praktis dikoreksi dakan tetapi tidak diperbaiki, seperti:
-          Akses terhadap peralatan komputer atau alat pemasukan data  elektronik tidak cukup dikendalikan.
-          Kewajiban yang  tidak sesuai/bertentangan tetapi tidak digabungkan.
10.   Terdapat transaksi yang material dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa atau terdapat transaksi yang mencakup benturan kepentingan.
11.   Pengumuman yang terlalu cepat atau premature atas hasil operasi atau pengharapan masa depan yang positif.
12.   Perosedur penelaahan analitis mengungkapka fluktuasi yang signifikan yang tidak dapat secara wajar dijelaskan, seperti:
-          Saldo akun yang material
-          Antar hubungan keuangan dan operasional
-          Selisih perhitungan persediaan
-          Tingkat perputaran persediaan
13.   Transaksi besar yang tidak biasa, khususnya pada akhir tahun, dengan pengaruh yang material atas pendapatan.
14.   Pembayaran besar yang tidak biasa berhubungan dengan jasa yang diberikan dalam usaha normal kepada pengacara, agen, atau pihak lain (termasuk karyawan)


15.   Kesulitan dalam memperoleh bukti audit yang berhubungan dengan:
-          Ayat jurnal yang tidak  biasa atau tidak dapat dijelaskan
-          Dokumentasi dan atau otoritasi yang tidak lengkap atau hilang
-          Pengubahan dalam doukumentasi atau akun.
16.   Dalam pelaksanaan pengujian laporan keuangan masalah yang tidak dapat diramalkan ditemukan, seperti:
-          Tekanan klien untuk meyelesaikan audit dalam waktu singkat yang tidak biasa atau dalam kondisi yang sulit.
-          Situasi pemindahan yang mendadak
-          Tanggapan yang bersifat mengelakan dari menejemen terhadap penyelidikan audit.

E.     Salah saji Yang Timbul Karena kecurangan pelaporan keuangan
Kecurangan  pelaporan keuangan biasanya dilakukan karena dorongan dan ekspektasi terhadap prestasi kerja manajemen. Salah saji yang timbul karena kecurangan terhadap pelaporan keuangan lebih dikenal dengan isltilah irregularities (ketidakberesab). Bentuk  kecurangan seperti   ini seringkali dinamakan kecurangan manajemen (management fraud), misalnya berupa: manipulasi, pemalsuan, atau pengubahan terhadap catatan akuntansi atau dokumen pendukung yang merupakan sumber penyajian laporan keuangan. Kesengajaan dalam salah menyajikan atau sengaja menghilangkan (itentional/ommision)  suatu transaksi, kejadian, atau informasi penting dari laporan keuangan, untuk itu sebaiknya anda mengikuti auditing workshop dan fraud workshop. Salah saji yang berupa penyalahgunaan aktiva. Kecurangan jenis ini biasanya disebut kecurangan karyawan (employee fraud). Salah saji yang berasal dari penyalahgunaan aktiva meliputi penggelapan aktiva perushaan yang mengekibatkan laporan keuangan tidak disajikan sesuai denga prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (ada baiknya karyawan mengikuti seminar fraud dan seminar auditing). Penggelapan aktiva umumnya dilakukan oleh karyawan yang menghadapi masalah keuangan dan dilakukan karena melihat adanya peluang kelemahan pada pengendalian internal perusahaan serta pembenaran terhadap tindakan tersebut. Contoh salah saji jenis ini adalah penggelapan terhadap penerimaan kas, pencurian aktiva perusahaan, mark-up harga dan transaksi “tidak resmi”.







SUMBER


4 komentar:

  1. Slot Online Malaysia: Slot Review & Bonus 2021 | Lucky Club
    LuckyClub is an online slot review and review site powered luckyclub.live by Relax Gaming that is designed to give you a quick and clear gambling experience,

    BalasHapus